Selasa, 06 Oktober 2009

PELIPUR LARA SAAT MUSIBAH DATANG

Yang nama musibah tentu rasa tdk mengenakkan. mk banyak manusia merasa tdk suka bila hidup tiba-tiba menjadi menderita krn musibah. Kehidupan yg selama ini mapan bisa hancur tdk bersisa. Tidak sedikit di antara mereka yg mengalami kesedihan berlarut-larut hingga menyebabkan stress. Bagaimana kiat menghadapi musibah secara benar dan bijak?

Dalam menapaki kehidupan dunia yg fana ini manusia senantiasa dihadapkan pada dua keadaan bahagia atau sengsara. Perubahan keadaan itu bisa terjadi kapan saja sesuai dgn takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun hanya orang yg beriman yg bisa lurus dlm menyikapi silih berganti situasi dan kondisi. Hal ini krn ia meyakini keagungan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tahu akan kelemahan dirinya.
Tidak dipungkiri musibah dan bencana akan selalu menyisakan kesedihan dan kepedihan. Betapa tdk sekian orang yg dicinta kini telah tiada. Harta benda musnah tdk tersisa. Berbagai agenda dan acara pun harus tertunda. Bahkan segenap pikiran tercurah utk meratapi diri.
Kondisi yg menyayat ini terkadang menggugah orang yg dlm hati ada sifat rahmat dan belas kasih. Sehingga uluran tangan dan bela sungkawa pun mengalir dari berbagai arah. Inti meringankan penderitaan orang yg terkena bencana. Nilai kepedulian yg datang dari orang lain jelas memberi arti. Namun yg terpenting adl bagaimana menghibur hati orang yg menderita itu serta menumbuhkan seribu harapan utk menatap masa depannya. Hal ini penting krn bantuan dari manusia bisa terputus dan orang yg kemarin membantu mungkin saja kini justru perlu dibantu.
Ini ketika mereka membantu dgn tulus dan tdk ada tendensi lain. mk bagaimana kira jika kebanyakan orang yg membantu punya tujuan-tujuan politis atau bahkan para misionaris yg ingin menancapkan cakar di tubuh orang2 yg lemah utk dimurtadkan?
Maka sudah seharus kita umat Islam menjadi orang2 yg terdepan dlm memberikan bantuan kepada orang2 yg sedang ditimpa musibah baik bantuan moril ataupun materil. Kita paparkan di hadapan umat tentang keagungan syariat ini serta keindahan dan bahwa Islam ini mampu menjawab problematika zaman. Kita sampaikan hiburan yg datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Rasul-Nya serta petuah para salaf umat ini.

Hakikat Musibah
Musibah adl perkara yg tdk disukai yg menimpa manusia. Berkata Al-Imam Al-Qurthubi: “Musibah adl segala apa yg mengganggu seorang mukmin dan yg menimpanya.”

Macam-macam Musibah
Sungguh musibah beragam bentuknya. Ada yg menimpa jiwa seseorang tubuh harta keluarga dan yg lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dgn sedikit ketakutan kelaparan kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yg sabar.”
Ath-Thabari berkata: “Ini adl pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para pengikut Rasul-Nya bahwa Ia akan menguji mereka dgn perkara-perkara yg berat supaya diketahui orang yg mengikuti rasul dan orang yg berpaling.”

Penting Istirja’ ketika Musibah
Istirja’ adl ucapan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُوْنَ

“Sesungguh kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yg sabar orang2 yg apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yg mendapat keberkahan yg sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang2 yg mendapat petunjuk.”
Shahabiyah Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tiada seorang muslim yg ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yg diperintahkan Allah : ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un wahai Allah berilah aku pahala pada yg menimpaku dan berilah ganti bagiku yg lbh baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepada yg lbh baik darinya.”
Ummu Salamah berkata: “Tatkala Abu Salamah meninggal aku mengucapkan istirja’ dan mengatakan: ‘Ya Allah berilah saya pahala pada musibah yg menimpa saya dan berilah ganti bagi saya yg lbh baik darinya.’
Kemudian aku berpikir kira siapa orang yg lbh baik bagiku daripada Abu Salamah? mk tatkala telah selesai masa ‘iddah-ku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin utk masuk di mana waktu itu aku sedang menyamak kulit Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melamarku.
Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah selesai dari pembicaraan aku berkata: ‘Wahai Rasulullah sebenar saya mau dilamar tapi saya seorang wanita yg sangat pencemburu. Saya khawatir anda akan melihat dari saya sesuatu yg nanti Allah akan mengazab saya karenanya. Saya juga orang yg sudah berumur dan banyak anak.’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Adapun apa yg engkau sebutkan tentang sifat cemburu niscaya Allah akan menghilangkannya. Dan apa yg engkau sebutkan tentang umur mk aku juga sama . Dan yg engkau sebutkan tentang banyak anak mk anakmu adl tanggunganku.’
Aku berkata: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Rasulullah.’ Lalu beliau menikahiku.
Ummu Salamah berkata setelah itu: “Allah telah menggantikan untukku yg lbh baik dari Abu Salamah yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Ini merupakan bukti dari firman Allah:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

“Dan berilah berita gembira bagi orang2 yg sabar.”
Yaitu adakala seseorang diberi ganti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn yg lbh baik. Seperti yg dialami Ummu Salamah ketika suami meninggal. Ketika Ummu Salamah mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan apa yg beliau perintahkan dgn penuh ketaatan Allah Subhanahu wa Ta’ala ganti dgn yg lbh baik dari yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguh kebaikan adl apa yg dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sedangkan kesesatan serta kecelakaan ada pada penyelisihan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Tatkala Ummu Salamah tahu bahwa segala kebaikan yg ada di alam ini -baik umum atau khusus- datang dari sisi Allah dan bahwa segala kejelekan yg ada di alam ini yg khusus menimpa hamba dikarenakan menyelisihi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mk ketika Ummu Salamah mengucapkan kalimat tersebut ia mendapatkan kemuliaan mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Terkadang pula dgn kalimat istirja’ tadi seorang hamba mendapatkan kedudukan yg tinggi dan pahala yg besar.
Kalimat ini mengandung obat/penghibur dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya bagi orang yg ditimpa musibah. Kalimat ini adl sesuatu yg paling tepat dlm menghadapi musibah dan lbh bermanfaat bagi hamba utk di dunia ini dan akhirat kelak. Karena di dlm terkandung pengakuan yg tulus bahwa hamba ini jiwa keluarga harta dan anak adl milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah jadikan itu semua sebagai titipan yg ada pada hamba. Jika Allah mengambil mk itu seperti seseorang yg mengambil barang yg dipinjam oleh peminjam.
Kalimat ini juga mengandung pengukuhan bahwa kembali hamba hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang pasti akan meninggalkan dunia ini di belakang punggungnya. Ia akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat sendirian sebagaimana awal mulanya. Tiada keluarga dan harta yg bersamanya. Ia akan datang nanti dgn membawa amal kebaikan dan amal kejelekan.